Wujudkan Pemilu Bermartabat dengan Pemilih yang Cerdas
|
Mesuji – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Mesuji menegaskan bahwa terwujudnya Pemilu yang bermartabat sangat bergantung pada kualitas kecerdasan pemilih dalam menentukan pilihan politiknya. Pemilih yang cerdas diyakini mampu menjadi benteng utama dalam mencegah praktik politik uang, ujaran kebencian, serta janji politik yang menyesatkan selama masa kampanye.
Ketua Bawaslu Kabupaten Mesuji, Deden Cahyono, S.Sos.I, menjelaskan bahwa Pemilu bukan hanya soal memenangkan suara, tetapi juga soal menjaga nilai-nilai kejujuran, etika, dan integritas dalam proses demokrasi. Oleh karena itu, Bawaslu terus melakukan edukasi publik untuk membentuk kesadaran politik yang sehat dan bertanggung jawab.
“Pemilih cerdas adalah mereka yang tidak mudah dipengaruhi oleh iming-iming, tidak terprovokasi isu SARA, dan menilai calon berdasarkan rekam jejak serta kapasitas. Dengan pemilih yang cerdas, kita bisa mewujudkan Pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat,” ujar Deden saat memberikan sambutan dalam kegiatan Sosialisasi Pengawasan Partisipatif di Kecamatan Simpang Pematang, Kamis (23/10/2025).
Ia menambahkan bahwa kecerdasan pemilih menjadi fondasi utama dalam menjaga kualitas demokrasi. Bawaslu Mesuji, melalui berbagai kegiatan pendidikan politik dan pengawasan partisipatif, terus mendorong masyarakat untuk aktif terlibat dalam setiap tahapan Pemilu, tidak hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai pengawas.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah pelanggaran dan memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan,” tambahnya.
Sementara itu, Wahyu Eko Prasetiyo, Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas, menegaskan bahwa literasi politik menjadi bagian penting dari upaya membangun pemilih yang cerdas.
“Bawaslu hadir bukan hanya untuk menindak pelanggaran, tetapi juga untuk mencegah. Literasi politik membantu masyarakat memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai pemilih, sekaligus melawan politik transaksional yang merusak demokrasi,” kata Wahyu.
Senada, Robby Ruyudha, Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa, mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh janji politik yang tidak realistis atau pemberian yang melanggar hukum.
“Pemilih cerdas akan menolak segala bentuk politik uang dan kampanye hitam. Dengan begitu, suara rakyat benar-benar menjadi alat perubahan, bukan sekadar alat transaksi,” tegas Robby.
Melalui berbagai kegiatan sosialisasi, Bawaslu Mesuji berkomitmen untuk memperkuat pengawasan dan membangun kesadaran politik masyarakat agar Pemilu 2024 berlangsung damai, berintegritas, dan bermartabat.
“Pemilu yang bermartabat hanya dapat terwujud jika pemilihnya cerdas, peserta Pemilunya beretika, dan pengawasnya tegas. Inilah semangat yang terus kami jaga,” pungkas Deden.