Wahyu Eko: Media dan Publik Harus Waspadai Isu SARA
|
Mesuji – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Mesuji, Wahyu Eko Prasetiyo, mengingatkan media dan masyarakat agar lebih waspada terhadap penyebaran isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) selama masa kampanye politik. Menurutnya, isu SARA kerap dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memengaruhi opini publik dan meraih keuntungan politik, sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
“Isu SARA adalah ancaman serius bagi persatuan bangsa. Media dan publik memiliki peran penting untuk menyaring informasi serta menolak narasi yang menyinggung identitas kelompok tertentu. Kampanye seharusnya menjadi ajang adu gagasan, bukan ajang memperuncing perbedaan,” ujar Wahyu Eko di Mesuji.
Ia menegaskan, Bawaslu Mesuji terus meningkatkan pengawasan terhadap jalannya kampanye agar bebas dari praktik politik identitas dan ujaran kebencian. Selain itu, Bawaslu juga mendorong peserta pemilu dan tim kampanye untuk mematuhi prinsip etika politik serta menjunjung nilai keadilan dan kesetaraan.
“Setiap pelanggaran yang berkaitan dengan penyebaran isu SARA akan kami tindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Kami ingin memastikan bahwa Pemilu berjalan damai, berintegritas, dan mencerminkan semangat kebangsaan,” tegasnya.
Wahyu Eko juga menyoroti pentingnya peran media massa sebagai penjaga keseimbangan informasi publik. Ia mengajak insan pers untuk tidak memberikan ruang pada narasi provokatif yang mengandung ujaran kebencian, serta lebih menonjolkan konten edukatif yang menumbuhkan kesadaran politik masyarakat.
“Media berperan sebagai pilar keempat demokrasi. Karena itu, penting bagi media untuk menyajikan berita yang menyejukkan dan mendorong kedewasaan berdemokrasi,” tambahnya.
Bawaslu Mesuji, kata Wahyu, terus berupaya membangun kolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya pencegahan penyebaran isu SARA, termasuk melalui kegiatan literasi digital, pendidikan politik, dan sosialisasi hukum pemilu kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan publik terhadap provokasi yang bersifat memecah belah.
“Partisipasi masyarakat menjadi kunci utama. Jika publik cerdas dan tidak mudah terprovokasi, maka upaya memecah belah bangsa melalui isu SARA tidak akan berhasil,” tutup Wahyu Eko.