Lompat ke isi utama

Berita

Deden Cahyono: Etika Adalah Ruh Komunikasi Politik

Deden Cahyono: Etika Adalah Ruh Komunikasi Politik

Ketua Bawaslu Kabupaten Mesuji, Deden Cahyono, S.Sos.I., menegaskan bahwa etika merupakan ruh dari setiap bentuk komunikasi politik. Tanpa etika, komunikasi politik dapat kehilangan makna dan justru menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka mendorong terciptanya budaya politik yang santun, edukatif, dan berintegritas di Mesuji.

“Etika adalah ruh komunikasi politik. Ia menjadi pedoman moral yang mengarahkan setiap pesan politik agar disampaikan dengan cara yang benar, jujur, dan menghormati perbedaan,” ujar Deden. Menurutnya, politik sejatinya merupakan wadah untuk memperjuangkan gagasan, bukan arena saling menjatuhkan. Oleh karena itu, setiap pelaku politik harus memahami batas antara kritik yang membangun dan ujaran kebencian.

Deden menjelaskan bahwa komunikasi politik yang beretika tidak hanya berkaitan dengan cara berbicara, tetapi juga sikap dan niat di balik pesan yang disampaikan. “Ketika komunikasi dijalankan dengan niat baik dan disertai kejujuran, maka kepercayaan publik akan tumbuh. Sebaliknya, komunikasi yang manipulatif hanya akan menurunkan kualitas demokrasi,” tambahnya.

Anggota Bawaslu Mesuji, Wahyu Eko Prasetiyo, yang juga Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas, menambahkan bahwa penerapan etika dalam komunikasi politik menjadi kunci untuk menciptakan suasana demokrasi yang sehat. “Komunikasi politik yang santun membantu masyarakat memahami isu-isu secara objektif. Ini sangat penting agar publik tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa di era digital, penyebaran pesan politik sangat cepat dan luas. Karena itu, tanggung jawab moral para pelaku politik dan pengguna media sosial menjadi semakin besar. “Setiap kata yang diucapkan atau ditulis memiliki dampak. Maka dari itu, etika harus menjadi filter utama sebelum berbicara di ruang publik,” jelas Wahyu.

Sementara itu, Robby Ruyudha, Anggota Bawaslu Mesuji yang juga Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa, menilai bahwa komunikasi politik yang beretika mampu mencegah terjadinya gesekan antarpendukung. “Ketika aktor politik menampilkan komunikasi yang santun, maka masyarakat akan meneladani hal tersebut. Ini menjadi langkah nyata dalam menjaga stabilitas politik dan mencegah pelanggaran pemilu,” tegasnya.

Bawaslu Mesuji berkomitmen untuk terus mengawal etika dalam ruang komunikasi politik melalui kegiatan sosialisasi, pendidikan politik, serta pengawasan terhadap potensi pelanggaran yang disebabkan oleh penyalahgunaan komunikasi publik. Dengan menjadikan etika sebagai dasar utama, diharapkan seluruh proses politik di Mesuji dapat berjalan secara damai, jujur, dan bermartabat.