Lompat ke isi utama

Berita

Wahyu Eko: Sikap Netral Kunci Menjaga Kepercayaan Publik

Mesuji – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Mesuji, Wahyu Eko Prasetiyo, menegaskan bahwa sikap netral para penyelenggara pemilu dan aparatur negara merupakan kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan internal pembinaan etika pengawasan yang digelar di Kantor Bawaslu Mesuji.

Menurut Wahyu, netralitas bukan sekadar kewajiban formal, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral dan profesionalitas dalam menjalankan tugas pengawasan pemilu. “Sikap netral mencerminkan integritas penyelenggara negara. Tanpa netralitas, keadilan dan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu bisa terganggu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, netralitas politik berarti tidak berpihak pada peserta atau partai politik mana pun, namun tetap aktif dalam memastikan proses demokrasi berjalan jujur dan adil. “Menjadi netral bukan berarti tidak peduli terhadap politik, tetapi justru menjaga agar setiap keputusan diambil berdasarkan aturan dan prinsip keadilan,” tambahnya.

Wahyu juga mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang salah memahami makna netralitas, dan sering kali menyamakan dengan apatisme politik. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda. “Netralitas lahir dari kesadaran profesional, sementara apatisme muncul karena ketidakpedulian atau kekecewaan terhadap politik. ASN, TNI, dan Polri harus berada pada posisi netral agar demokrasi tetap sehat,” tegasnya.

Ketua Bawaslu Kabupaten Mesuji, Deden Cahyono, S.Sos.I, turut menambahkan bahwa netralitas menjadi fondasi penting bagi kredibilitas penyelenggaraan Pemilu. “Kepercayaan masyarakat dibangun dari sikap profesional dan konsistensi dalam menjaga jarak dari kepentingan politik tertentu,” katanya.

Sementara itu, Robby Ruyudha, anggota Bawaslu lainnya, menilai bahwa menjaga netralitas juga berarti menjaga marwah kelembagaan. “Setiap tindakan dan keputusan pengawas pemilu harus mencerminkan independensi. Itu yang membuat publik percaya bahwa Bawaslu bekerja untuk semua, bukan untuk kelompok tertentu,” ujarnya.

Melalui berbagai kegiatan pembinaan dan pendidikan etika, Bawaslu Mesuji terus mendorong seluruh jajaran serta masyarakat untuk memahami pentingnya netralitas politik. Sikap ini tidak hanya menjaga integritas penyelenggaraan Pemilu, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi yang bersih dan berkeadilan.