Deden Cahyono: Etika Adalah Ruh Demokrasi
|
Mesuji — Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Mesuji, Deden Cahyono, S.Sos.I., menegaskan bahwa etika merupakan ruh dari demokrasi yang berkeadaban. Menurutnya, keberlangsungan demokrasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh regulasi dan mekanisme pemilu yang baik, tetapi juga oleh komitmen moral dan etika seluruh pelaku politik, penyelenggara, serta masyarakat.
“Etika adalah ruh demokrasi. Tanpa etika, politik kehilangan arah moralnya dan hanya menjadi arena perebutan kekuasaan semata. Karena itu, setiap langkah politik harus berlandaskan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan rakyat,” ujar Deden saat ditemui di Kantor Bawaslu Mesuji, Senin (20/10/2025).
Menurut Deden, penerapan nilai etika dalam politik penting dilakukan mulai dari tahapan awal hingga pasca penyelenggaraan Pemilu. Ia menilai, pelanggaran etika seringkali menjadi pintu masuk munculnya pelanggaran hukum, seperti politik uang, penyebaran hoaks, atau ujaran kebencian yang dapat mengancam keutuhan bangsa.
Bawaslu Mesuji, kata Deden, terus menguatkan pendidikan politik beretika kepada masyarakat melalui berbagai program seperti Sosialisasi Pengawasan Partisipatif, Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP), dan Forum Diskusi Demokrasi Beretika yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa keberhasilan Pemilu bukan hanya diukur dari terselenggaranya proses secara teknis, tetapi juga dari sikap dan perilaku politik yang menjunjung tinggi nilai etika dan integritas,” tambahnya.
Lebih lanjut, Deden menjelaskan bahwa Bawaslu tidak hanya berperan sebagai pengawas pelanggaran hukum Pemilu, tetapi juga sebagai lembaga yang mendorong terbentuknya budaya politik yang beretika dan bermartabat. Ia menekankan pentingnya peran partai politik dalam menanamkan nilai etika kepada kader dan simpatisan sejak dini.
“Partai politik harus menjadi teladan. Mereka bukan sekadar peserta Pemilu, tetapi juga pendidik politik bagi masyarakat. Bila partai mempraktikkan etika politik, maka demokrasi kita akan tumbuh sehat,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Deden juga menyinggung pentingnya etika dalam menghadapi era digital. Informasi yang cepat dan luas harus diimbangi dengan tanggung jawab moral dalam menyampaikan pesan politik agar tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat.
“Kita tidak boleh membiarkan ruang digital dipenuhi ujaran kebencian dan fitnah. Bawaslu mengajak semua pihak untuk berpolitik dengan santun, berargumentasi dengan data, dan menghormati perbedaan pandangan,” tegasnya.
Bawaslu Kabupaten Mesuji berkomitmen menjadikan etika sebagai bagian integral dari pengawasan Pemilu. Melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif, Bawaslu berharap nilai-nilai kejujuran, kesetaraan, dan tanggung jawab dapat menjadi karakter dasar dalam setiap proses demokrasi di Mesuji.
“Etika menjaga marwah demokrasi. Bila etika dijaga, maka keadilan dan integritas Pemilu akan terwujud,” pungkas Deden.
Dengan langkah ini, Bawaslu Mesuji meneguhkan diri sebagai lembaga yang tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan berdemokrasi demi terwujudnya Pemilu yang luber, jurdil, dan berintegritas.